Tentang Gaya Pola Asuh Generasi Milenial

Pasti Kita sudah tahu bahwa ada 4 jenis pola asuh di era modern yang sering kita dengar.

Tapi, bagaimana dengan pola asuh untuk generasi milenial, apakah tetap sama?

Meski setiap keluarga memiliki pola yang khas ketika mendidik anak, tapi biasanya tidak akan jauh berbeda ketika mereka dididik oleh para orang tuanya dulu.

ibarat istilah “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”’…

semua didikan yang diterima, sedikit banyak bisa berpengaruh kepada anak yang telah dewasa dan berkeluarga.

Sama halnya dengan generasi milenial yang saat ini telah menjadi orang tua dan mempunyai anak

Siapakah sih generasi milenial ?

Generasi milenial adalah mereka yang berumur dalam rentang umur 17-33 tahun pada saat ini.

artinya sebagian besar generasi milenial sudah mendekati ke masa pernikahan atau para pasangan muda yang baru menikah dan baru mempunyai anak.

menurut klaus schwab, generasi milenial lahir ketika era digital dan teknologi mulai bekembang dengan pesat.

berbeda dengan generasi sebelumnya, para milenial cenderung sangat peka dengan kemajuan informasi, khususnya informasi digital.

bahkan sebagian besar perkembangan digital itu diciptakan oleh para milenial dan mereka pula penikmat setianya..

Misalnya social media atau atau pasar online yang bisa kita akses dimanapun dan kapanpun.

Ciri dan Karakter Generasi Milenial

Suka Cerita & Pengalaman, Para milenial sudah terbiasa dengan mencari informasi sendiri. artinya lebih menyukai nara sumber langsung daripada sebuah golongan atau kelompok tertentu.

Ini semua karena mudahnya mengakses informasi lewat internet dan gadget yang sudah menjadi keseharian para milenial.

Pengalaman seseorang dianggap referensi yang bisa dipercaya karena langsung dari yang mengalaminya. berbeda dengan cerita iklan ataupun opini global.

alasan inilah yang membuat review dan endorse sangat penting bagi para milenial, dan menjadi rujukan pertama saat melakukan suatu hal.

khususnya ketika mereka bertransaksi jual beli.

Mobile dan Nomaden, Jika dulu televisi menjadi primadona, berbeda untuk mereka para milenial.

Ponsel atau smartphone menjadi teman mereka untuk menghabiskan waktu dan mencari informasi.

Sehingga generasi ini akan cenderung lebih aktif dan tidak terpaku di suatu tempat.

kemanapun milenial pergi, mereka akan tetap bisa terhubung dengan hiburan, informasi dan semua hal yang mereka butuhkan.

Bahkan untuk urusan pekerjaan sekalipun.

Pekerjaan seperti travel review ( blog atau vlog), freelancer, marketing, banyak dipilih karena bisa dilakukan secara remote selama karena mudah koneksi internet sekarang ini.

Jadi tidak ada alasan bagi milenial untuk tetap diam terpaku di depan layar tv seperti yang biasa dilakukan para orang tuanya dulu.

Interaksi Non Fisik, sedikit membingungkan tetapi begitulah kenyataanya.

Milenial sangat aktif dalam dunia sosial bahkan tanpa ada batasan waktu dan jarak sekalipun.

Namun sayangnya interaksi ini hanya bersifat maya atau jarang dilakukan secara tatap muka secara langsung.

Berbagai aplikasi social media yang tersedia sangat memudahkan para milenial untuk menjalin pertemanan.

Interaksi di sosmed belakangan ini juga makin variatif dengan fitur yang semakin hari semakin bertambah.

Banyak diantaranya memanfaatkan fenomena ini tidak sekedar urusan sosial semata, tetapi sudah berkembang menjadi sarana jual beli atau menjadi penghasilan bagi sebagian orang.

Transaksi non tunai, sama halnya dengan interaksi sosial, kini transaksi pun dibuat maya non fisik.

Pada dasarnya orang yang termasuk para milenial cenderung lebih menyukai yang serba cepat dan instant.

Salah satunya dalam hal transaksi jual beli.

Selain faktor keamanan, membawa uang tunai lebih merepotkan dan kurang fleksibel. belum lagi jika kembalian yang tidak diharapkan seperti uang koin atau fisik uang yang kurang baik.

Transaksi non tunai lebih digemari para milenials karena mengurangi resiko yang tidak diinginkan.

Ditambah dengan adanya reward dan poin, semakin menambah daya tarik tersendiri untuk melakukan transaksi tanpa uang fisik.

Masalah utama di era milenial

Generasi millenial dihadapkan pada keadaan yang sulit.

Ibarat berpijak pada dua kaki yang berbeda tempat.

meski tumbuh dan besar di era teknologi yang berkembang, para milenial masih dipengaruhi oleh gaya tradisional terdahulunya. yaitu para orang tua mereka.

Orang tua mereka adalah generasi yang mungkin saja masih belum terbiasa dengan konsep milenial.

akibatnya Pola asuh yang diterima generasi milenial akan sedikit bersinggungan dengan cara milenial yang akan mereka terapkan pada anaknya mendatang.

sampai saat ini masih banyak kok di dalam satu keluarga inti yang terdiri dari  beberapa generasi.

keadaan ini sering menimbulkan terjadi perbedaan pendapat dan persepsi mengenai gaya pola asuh antara milenial dengan orang tuanya.

Belum lagi jika orang tua mereka belum bisa mempercayakan sepenuhnya mengenai pola asuh dan terkesan masih ikut campur dalam hal membesarkan anak.

Perbedaan persepsi ini akan sering muncul selama tidak ada komunikasi intens diantara kedua generasi.

Tantangan parenting untuk generasi milenial

Internet, seperti sebuah pisau bermata dua.

Pada satu sisi merupakan sebuah kemajuan teknologi informasi yang sangat memudahkan di berbagai hal.

Kita bisa merasakan bagaimana mudahnya untuk terhubung dengan orang lain yang jauh, kemajuan sistem perbankan, atau juga sangat cepat kita bisa mendapatkan informasi yang kita butuhkan.

Tapi sayangnya, di sisi yang lainnya internet merupakan ancaman yang sangat serius buat orang tua generasi milenial.

Bagaimana tidak,

Jika kita bisa dengan mudahnya mencari informasi yang bermanfaat, sebaliknya kita juga bisa dengan cepat mencari informasi yang tidak sesuai dengan perkembangan anak.

terlebih karena cepat nya kita memperoleh informasi, terkadang kita tidak bisa membedakan mana yang baik dan tidak dikarenakan waktu yang singkat untuk mencerna sebelum informasi yang lain datang kembali.

hal ini yang menjadi tantangan para milenial dalam membesarkan anak mereka.

Kemajuan teknologi tidak bisa kita cegah, dan akan terus berkembang.

terlalu naif jika kita harus mengurung anak kita agar terhindar dari teknologi berbasis internet.

Lambat atau cepat mereka akan terbiasa dengan semua itu.

Sosial media yang awalnya diperuntukan untuk sekedar berinteraksi sosial, sekarang menjadi lebih kompleks dan melebihi fungsi utamanya sebagai alat sosial.

Bukan tidak mungkin satu dekade ke depan akan melebihi dari apa yang sekarang kita pergunakan.

Dibutuhkan tindakan preventif dari para orang tua milenial serta pengendalian dan pengawasan yang tepat.

Tips parenting di jaman milenial

Generasi berikutnya sudah pasti akan melebihi dari sebelumnya, hal ini juga berlaku pada generasi milenial yang lambat laun akan terlihat kolot.

Beberapa tips parenting untuk para milenial dibawah ini mungkin bisa dikatakan sebagai tindakan preventif yang bisa dilakukan dan sesuai dengan pola asuh cara milenial.

Optimalkan waktu berkualitas bersama anak

Segalanya sudah semakin mudah dan cepat dengan bantuan teknologi.

Secara logika artinya ada waktu kosong yang bisa di pergunakan untuk yang lebih prioritas.

Salah satunya waktu bersama anak.

Anak itu ibarat cerminan dari orang tuanya, mengalihkan perhatian anak kepada orang tuanya akan jauh lebih baik daripada anak mengalihkan perhatiannya kepada hal lainnya.

Tidak sedikit para orang tua yang mengeluh karena anak-anaknya kecanduan gadget, tapi ironisnya para orang tuanya lebih memperhatikan media social dan ponsel mereka dibanding anak mereka.

Kenalkan teknologinya bukan social medianya

 

1 Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.

2018 © The Voux Magazine. All rights reserved.